Menilik Bahari Maritim Indonesia masa Pra-Kolonial

Indonesia bukan pulau-pulau yang dikelilingi laut. Tetapi, laut yang dikelilingi pulau-pulau”. Kutipan dari A.B. Lapian, sejarawan maritim Indonesia tersebut menandakan bahwa Indonesia memiliki banyak potensi dari segi geografinya. Perairan di Indonesia sendiri memiliki keterkaitan dari perairan satu ke perairan lain dan membentuk suatu pola jaringan pelayaran dan perdagangan. Tidak mengherankan karena Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state). Sebagai tempat singgah dari satu perairan ke perairan lainnya, kita mengenalnya sebagai pelabuhan. Peran pelabuhan sangat penting bagi lalu lintas perairan. Menurut data dari Kementrian Perhubungan, terhitung saat ini di Indonesia terdapat lebih dari dua ribu pelabuhan yang melayani lalu lintas laut. Jumlah yang sepadan dengan wilayah perairan yang dimiliki oleh Indonesia. Namun, bagaimanakah peran pelayaran, pelabuhan, dalam dunia maritim pada masa lampau?

Kita akan mundur beberapa abad ke belakang yaitu mulai pada abad 15, sebelum bangsa barat datang menyebarkan pengaruhnya. Dalam pembabakan zaman maritim Indonesia, masa ini disebut sebagai masa ‘Kurun Niaga’. Kurun niaga adalah masa dimana kegiatan perdagangan (niaga) menjadi sangat dominan dalam kehidupan masyarakat, baik di tingkat lokal maupun internasional. Masa kurun niaga di Indonesia (atau lebih luas bisa disebut wilayah Nusantara) sebenarnya dimulai ketika munculnya kebutuhan dan peluang perdagangan besar-besaran di masa lalu. Wilayah Nusantara termasuk ke dalam rangkaian jalur perdagangan tersebut. letak strategis Asia Tenggara, khususnya Nusantara, yang berada di jalur pelayaran internasional antara India, Cina, dan Timur Tengah. Kekayaan sumber daya alam, terutama rempah-rempah seperti cengkeh, pala, dan lada yang hanya tumbuh di wilayah ini, membuat para pedagang dari berbagai belahan dunia tertarik untuk datang dan berdagang. Selain itu, kemajuan teknologi pelayaran dengan penggunaan kapal-kapal besar memungkinkan perjalanan jauh membawa banyak barang.

Terdapat Peran Kerajaan Maritim

Perdagangan juga menjadi sumber kekuatan ekonomi dan politik bagi kerajaan-kerajaan maritim seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Malaka. Mereka menguasai pelabuhan, menarik pajak, dan menjadikan perdagangan sebagai dasar kekayaan serta legitimasi kekuasaan. Tidak hanya barang yang diperdagangkan, tetapi juga agama, budaya, bahasa, seni, dan ilmu pengetahuan ikut tersebar melalui interaksi antarbangsa. Dengan demikian, masa kurun niaga ada karena perpaduan antara posisi geografis yang strategis, komoditas berharga yang dibutuhkan dunia, serta peran kerajaan-kerajaan yang menjadikan perdagangan sebagai pusat kehidupan masyarakat.

Pada masa kurun niaga, perairan Nusantara tidak hanya menjadi jalur perdagangan yang ramai, tetapi juga rawan berbagai masalah keamanan, terutama pembajakan laut. Catatan Tiongkok sejak abad ke-7 sudah menyebut adanya perompak di sekitar Selat Malaka dan Laut Cina Selatan, sehingga kerajaan Sriwijaya harus membangun armada laut untuk menjaga keamanan jalur niaga. Kemudian, Tomé Pires dalam Suma Oriental (1512–1515) menyebut peran Komunitas Orang Laut yang mendiami perairan Selat Malaka berperan ganda: mereka dapat menjadi penjaga perdagangan bila berada di bawah perlindungan kerajaan seperti Sriwijaya atau Malaka, namun juga bisa berubah menjadi bajak laut bila tidak terikat kekuasaan. Selain itu, konflik antar kerajaan maritim juga menambah ketidakstabilan. Majapahit, misalnya, harus menghadapi ancaman perompak dan kerajaan lain sehingga membentuk armada laut khusus di bawah pimpinan Mpu Nala untuk mengamankan pelayaran. Kesultanan Malaka pun kerap mendapat serangan dari kerajaan tetangga, seperti Siam, yang berusaha merebut posisi strategisnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang membuat wilayah perairan Nusantara ramai dalam pelayaran dan perniagaan pada abad 15 sampai 17 adalah seperti letak wilayah yang geogarfi strategis, adanya sumber daya yang melimpah, budaya masyarakat Asia Tenggara, Kebijakan Maritim kerajaan yang ada di Nusantara, dan juga adanya perkembangan kapal dan teknologi navigasi.

Di zaman dulu, teknologi perkapalan belum secanggih sekarang. Pada masa modern ini sudah lebih banyak hal yang berkembang. Perkembangan tersebut tentu tidak akan terlepas dari ancaman yang semakin berkembang pula. Maka dari itu, kita harus senantiasa siaga dengan segala ancaman yang membahayakan. Apakah pelabuhan tersebut sudah memenuhi standar keamanan? Apakah orang yang bekerja di pelabuhan dan perkapalan sudah mengetahui yang harus dilakukan dalam menghadapi situasi yang tidak terduga? Di sini, PT. Gada Parama Shakti hadir sebagai perusahaan yang bergerak di bidang Recognized Security Organization (RSO). Dengan tenaga ahli yang kami miliki, kami dapat membantu pelabuhan atau perkapalan melakukan verifikasi keamanan, menyelenggarakan pelatihan berdasarkan ISPS Code, penilaian keamanan kapal (SSA) dan Penilaian Keamanan Fasilitas Pelabuhan (PFSA), serta produk lainnya. Kami juga telah terverifikasi oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan sudah mendapatkan izin usaha berbasis risiko.

Jika Anda ingin pelabuhan dan orang-orang di dalamnya terverifikasi aman, mari bergabung dengan pelatihan yang dilakukan PT. Gada Parama Shakti. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi 62 812-8474-1998.

 

Sumber:

  • Reid, A. (1992). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin (Vol. 1). Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
  • Ricklefs, M. C. A History of Modern Indonesia since c. 1200. Palgrave Macmillan, 2008.